Minggu, 25 Maret 2012

Konflik Dalam Pelayanan Mahasiswa? Bagaimana Menyelesaikannya


Masih dalam ingatan saya kurang lebih 3 tahun yang lalu, ketika mengikuti kuliah Agama semenjak semester 1, dosen agama pernah berkata: manusia tidak pernah lepas dari masalah. Dengan kata lain, dalam menjalani kehidupan sehari-hari, manusia tidak pernah luput dari sebuah masalah, siapapun dia. Saya mencoba memahami pernyataan ini, ternyata benar. Sebaik apapun dan sehebat apapun orang atau suatu lembaga, pasti mengalami yang namanya masalah, apalagi orang yang aktif dalam suatu organisasi/lembaga tertentu. Tetapi Itu bukan berarti bahwa kita “menikmati” masalah itu terus, sebaliknya kita jangan pernah berharap untuk tidak pernah mengalami masalah. Mengapa?, sebelum kita lebih jauh membicarakan tentang sebab-sebab timbulnya konflik/masalah dan bagaimana memanajement conflik/menyelesaikannya, sangat perlu dan sebaiknya kita memahami terlebih dahulu apa itu masalah.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), masalah mengandung pengertian, persoalan, sesuatu yg harus diselesaikan (dipecahkan), kalau di lihat dari kacamata ilmu hukum, maka masalah adalah ketidaksesuaian antara harapan (das sein) dan kenyataan (das solen). KBBI memberikan batasan bahwa masalah merupakan persoalan, sesuatu yang harus di selesaikan (dipecahkan). Itu berarti bahwa ada sesuatu yang buruk, tidak beres, tidak mengandung kebaikan dan kebenaran sehingga perlu di selesaikan dan (dipecahkan). Begitupun ketika melihat dari kacamata ilmu hukum, tidaklah jauh berbeda, masalah merupakan ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan.

Manusia tidak pernah terlepas dari masalah, karena Tuhan menciptakan manusia dengan keunikan dan berbagai perbedaan yang ada dalam diri masing-masing. Tentu dalam lingkungan kehidupan bermasyarkat berbangsa dan bernegara, bahkan dalam kehidupan berorganisasi dan pelayanan setiap orang memiliki hak dan kewajiban masing-masing, memiliki keinginan dan rasa aman, tujuan yang berbeda-beda, tentu sangat sulit di gabungkan bahkan di satukan. Maka, sudah tentu sangat rentan dengan masalah/konflik. Dengan demikian, kembali kepada kita, bagaimana kita dapat menyelesaikannya.

Dalam kehidupan berorganisasi maupun pelayanan Mahasiswa di kampuspun, setiap mahasiswa mempunyai keinginan, kepentingan dan tujuan yang berbeda-beda dalam mewujudkan idealismenya. Sehingga namanya masalah, tidak pernah akan lepas. Namun alangkah indahnya jika semua itu di satukan. Dalam pelayanan mahasiswa kristen, mengapa sering terjadi masalah?, kalau sebab-sebab munculnya masalah/konflik secara umum telah saya paparkan di atas. Nah, bagaimana dengan masalah yang sering terjadi dalam pelayanan mahasiswa kristen?, apa penyebabnya?.

Menurut saya, yang pertama, karena setiap mahasiswa kristen yang terlibat dalam pelayanan, belum menyangkal diri dan memikul salib (belum mengalami kelahiran baru dan bertobat dengan sungguh-sungguh), akibatnya dalam mengerjakan aktifitas pelayanan, masih bersungut-sungut dan tidak totalitas, sehingga tugas yang di kasih tidak terselesaikan dengan baik. Melarikan diri dari pelayanan, bukan Tuhan Yesus yang menjadi Tujuan utama, namun kehebatan diri yang ditunjukan/ditonjolkan

Yang kedua, masing-masing pengurus memiliki cara kerja/metode dalam menyelesaikan tugas berbeda-beda. Misalnya ada yang cekatan, ada yang lamban, ada yang perlu di ingatkan terus untuk mengerjakan bagiannya baru di kerjakan.

Yang ketiga, kurangnya keterbukaan dan penerimaan diri antar sesama pengurus. Misalnya yang satu merasa diri yang paling benar, yang paling hebat sehingga tidak perlu menerima masukan atau saran dari orang lain. Padahal kita semua memiliki satu Tujuan dalam pelayanan, yaitu untuk kemuliaan Tuhan.

Bagaimana menyelesaikan masalah yang terjadi? Ada beberapa hal, antara lain:

  1. Menyadari dan mengakui kesalahan yang dilakukan
  2. Berinisiatif untuk menyelesaikannya dengan baik dan tidak mengulanginya kembali
  3. Kedepankan aspek keterbukaan dan saling mengampuni
  4. Memohon ampun dari Tuhan dan berkomiten untuk berubah kedepan

Dengan melakukan beberapa hal ini, kita berharap semua masalah yang mungkin sering kita hadapi dalam aktifitas pelayanan mahasiswa, dapat terselesaikan dengan baik dan penuh kedamaian. Semoga!!!.


Malang, 18 Maret 2011
CARTES ASBIT RANGOTWAT

Kamis, 22 Maret 2012

MAKNA PASKAH BAGI KITA


Masih dalam suasana paskah, hari Jumat agung yang kita lalui sampai pada hari ini, minggu paskah. Umat kristiani mengikuti seluruh rangkaian kegiatan untuk mengenang proses penyaliban Yesus Kristus dan kematian, hingga kebangkitanNya. Beragam bentuk kegiatan pun ditampilkan, mulai dari teatrikal Penyaliban Yesus yg dilakukan di Gedung gereja pada saat kebaktian, pementasan drama, Jalan Salib. Bahkan jika saya melihat ke belakang dan mengingat zaman dulu semenjak masih berstatus “anak sekolah minggu” di gereja, yang melintas di pikiran saya adalah menyambut Paskah, pasti ada kegiatan mencari telur paskah. Sekali lagi, semua itu dilakukan untuk mengenang proses penyaliban Yesus Kristus, kematian hingga kebangkitanNya.

Rentetan waktu mengenang peristiwa penyaliban Yesus Kristus, kematian hingga kebangkitanNya dari Jumat Agung sampai Minggu paskah yang biasanya kita kenal dengan kebangkitan yesus ini pula yang sampai saat ini kita kerap memanfaatkannya untuk saling memaafkan, dalam bentuk kartu ucapan kepada sesama lewat sms, atau telepon dan bahkan ketemu langsung sekiranya mungkin ada kesalahan yang selama ini kita lakukan dapat di maafkan. Semuanya ini tidaklah salah, tetapi saya hanya berharap supaya setiap kita tidaklah terjebak pada ceremonial dan rutinitas belaka, yang kita lakukan menjelang jumat agung dan minggu paskah. Seyogianya apa yang kita lewati bersama-sama ini, Jumat Agung dan minggu paskah dapat kita maknai sebagai Pesan Rohani dan Langkah Awal untuk kita tetap setia memikul “Salib Yesus Kristus”

Yesus di tangkap (Lukas 22: 47-53), Yesus di hadapan Mahkamah Agama (Matius 26:59-68), yesus di hadapan pilatus (Matius 27:11-14, 23-26), Yesus disiksa dan diolok-olok, (Matius 27:27-31), Yesus disalibkan (Matius 27:35-44), Yesus Mati (Matius 27:50-54). Semua tahapan yang dilaluinya hanyalah bentuk kesetiaanNya kepada BapaknNYa, untuk menyelamtkan kita umat yang berdosa. Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita di benarkan oleh Allah (II Kor 5:21). Yesus Kristus melakukan semuanya itu untuk memperbaiki relasi yang telah putus antara manusia dengan Allah sehingga melalui Yesus Kristus dengan Pengorbanan Dirinya di Kayu Salib, kita mendapat tempat yang berkenaan di hadapan Allah.

“Paskah bukan sekadar upacara, juga bukan peristiwa masa lampau saja. Lilin Paskah yang dinyalakan setiap perayaan Paskah selalu diberi tanda tahun ketika Paskah itu dirayakan. Harapannya, agar warta Paskah diwujudkan dalam realitas sosial”. (I Suharyo Uskup Keuskupan Agung Jakarta kompas, 23/04/2011). Semoga kita dapat berbagi harta, berbagi bahagia, berbagi derita, berbagi sengsara, berbagi nestapa: tanda kesetiaan. Setia kepada Tuhan dan bersetia kawan dengan sesama. Ikut serta membangun kesejahteraan bersama dengan persahabatan sejati, juga dengan risiko maut, agar ikut dibangkitkan bersama Dia, yang taat kepada Bapa-Nya dalam kesetiakawanan-Nya kepada kita (Filipi 2:1-11). (BS Mardiatmadja, SJ Rohaniwan, Kompas/23/04/2011).

Bagi setiap kita basudara, pela gandong, umat Tuhan di maluku, tanah kelahiran yang kita cintai ini, biarlah kita memaknai moment paskah ini untuk menyatakan kasih kristus bagi sesama, bersaksi lewat tindakan dan perbuatan kita yang mencermikan kristus yang rela mati di kayu salib demi kita, mewujudkan toleransi antara sesama umat beragama. Melalui itulah, maka kita dapat mencapai masyarakat maluku yang aman, damai, bertoleransi, dan takut akan Tuhan. Selamat Paskah, Tuhan Memberkati!!

(Tulisan ini sudah di muat di media online maluku, balagu.com. paskah Tahun 2011)

FEBRUARI, BULAN TERAKHIR BERTEMU DENGANNYA!


Terbesit dalam pikiran saya menjelang hari-hari terakhir minggu tenang persiapan UAS semester 7. Tepatnya bulan desember 2010, waktu itu saya berpikir,  bagaimana kalau libur UAS bulan Pebruari pasca UAS semester ganjil, saya manfaatkan untuk pulang kampong sekaligus mengadakan Sosialiasi Dunia Kampus untuk siswa kelas 3 SMA/SMK se MTB. Rencana itupun terealisasi, ketika saya mengajukan Proposal Sosialisasi Program Studi Unmer. Dan, Puji Tuhan Proposal di terimah oleh Rektor. Dicairkanlah dana Transportasi dan Akomodasi oleh bagian keuangan universitas dalam melaksanakan Promosi Program Studi Unmer, saya pun berangkat bersama staf saya di BEMU, revi bulan Pebruari tahun 2011, setelah libur UAS. Dari Malang menumpang Travel, kami berdua dengan penumpang lainnya berangkat menuju bandara Internasional Juanda Surabaya subuh itu, menghabiskan waktu 2 jam Malang-Surabaya. Kurang lebih jam 07.00 WIB kami tiba di Bandara.

Pengalaman pertama naik pesawat di bandara Internasional Juanda Surabaya. Bandara yang besar, dan tidak sedikit jumlah penumpang jurusan berbagai daerah di Indonesia dan ke luar negeri setiap harinya, membuat perasaan ini gembira bercampur sedikit kekuatiran. Sebab, belum terlalu mengerti prosedur disana. Aktif untuk bertanya ke petugas setempat tak hentinya saya lakukan, walau terdapat rasa malu. Tapi ku inget pepatah: “malu bertanya sesat dijalan”. Itulah yang membuat saya berbesar hati untuk tidak malu lagi bertanya. Saya dan revi pun cek-in, dan yang membuat saya syok berat dipagi itu ialah, kami mengeluarkan sekitar kurang lebih 5oo ratus ribu rupiah untuk membayar bagasi. Walaupun ada kuota 20 kg bagasi bagi setiap penumpang, tapi barang bawaan kami lumayan berat, sehingga kami kelebihan bagasi. Maklum, yang membuat berat bukan hanya peralatan sosialisasi seperti: spanduk, brosur, kalender dari kampus. Tapi, ole-oleh khas Malang, apel manalagi punya kami maupun titipan teman di malang untuk orang tua dan sanak-saudara di saumlaki MTB,he-he-he.

Penerbangan Surabaya – Ambon dengan Batavia Airlines ditempuh sekitar 2 jam. Pukul 1 siang waktu Indonesia timur (WIT) kami tiba di bandara Patimura Ambon. Itulah kali pertama ku melihat dan menginjakan kaki di Bandara Pattimura Ambon yang berada di daerah Laha. Maklum, dulu semenjak kecil pernah ke Ambon, namun tidak pernah ke daerah laha, Bandara Patimura.he – he. Besoknya, tepat hari selasa, kami menumpang pesawat kecil kapasitas 15 – 25 orang, pesawat Trigana Air menuju Saumlaki Kabupaten Maluku Tenggara Barat, daerah kami sekaligus tempat sosialisasi kampus unmer pertama kali di kabupaten julukan bumi Duang Lolat ini. Kepulangan saya ke MTB untuk sosialisasi sekalian libur dikampung halaman tahun 2010 ini, merupakan kali pertama pulang kampong semenjak berangkat ke Pulau Jawa tahun 2007 untuk berkuliah. Tidak terasa, 3 tahun meninggalkan daerah, meninggalkan orang tua, rasa kangen, dan rindu terhadap mereka selama ini akan segera terobati. Ya, terobati diwaktu pulang kampong inilah.
 
Kepulangan saya ke saumlaki sudah diketahui oleh kedua orang tuaku. Sehingga, ketika kami dalam perjalanan dari Ambon ke saumlaki dengan pesawat trigana, merekapun dalam perjalanan dari kampungku, lingat, kecamatan selaru menuju saumlaki dengan motor laut. Pesawat Trigana tepat pukul 14: 00 WIT mendarat di bandara Olilit saumlaki. Saya pun di jemput oleh Elson, saudara sepupuku menuju rumahnya di komplek BTN, rumah yang dulunya kami berdua tempati ketika SMA. Revi, stafku dibemu yang cantik ini di jemput juga oleh kakaknya pulang ke rumahnya, saat itulah kami berpisah. Namun, berpisah untuk beberapa jam, karena besok sudah bertemu lagi untuk memulai Sosialisasi di sekolah-sekolah.he - he. Setelah tiba di rumah komplek BTN, ternyata masih sepi. orang tuaku belum tiba, mereka masih dalam perjalanan.
Duduk ngobrol bersama Elson dan istrinya, ada juga palmen, adik sepupuku yang dulu waktu saya masih SMA masih kecil dan di tinggal kampong. Kini, sudah besar dan sekolah SMA di kota saumlaki. Beberapa menit ngobrol, tiba – tiba di depan rumah ada ojek yang menurunkan penumpang. Eh, ternyata itu ibuku yang turun dari motor, segera ku datangi langsung memeluknya dan menciumnya. Nyong kok kurus? “kata ibu saya”. Iya mama, maklum anak kos. “jawabku”. Tak lama kemudian, bapak dan adikku, oyon pun tiba. Segera ku berikan ole2 mereka dan tak ketinggalan ole2 khas malang, apel manalagi saya berikan. Itulah pertama kalinya berjumpa dengan mereka sejak 3 tahun lamanya meninggalkan mereka.

Kegiatan Sosialisasi kami lakukan di 10 sekolah di MTB, 8 sekolah di kota saumlaki, sementera 2 sekolah lainnya di luar kota, yakni SMA di Kecamatan Wertamrian Lorulun dan SMA 1 Selaru di Kecamatan Selaru. Sekitar 1 minggu lebih kegiatan sosialisasi kami lakukan hingga selesai. Kini tugas dan tanggungjawab yang diberikan universitas kepada kami telah selesai. Selanjutnya, waktu 1 minggu tersisa ku habiskan selain bersama orang tua di rumah, ke pantai, dan kunjungi keluarga yang lain. Waktu 1 minggu telah berakhir dan harus balik ke Malang untuk berkuliah kembali. Rasa berat meninggalkan mereka lagi. Namun, mau gimana lagi, semua ini demi masa depan saya kelak. Setelah kembali ke malang untuk melanjutkan kuliah saya di semester akhir 2011, dan menyelesaikan tugas sebagai presiden mahasiswa, 7 bulan setelah kepulangan saya bulan pebruari itu, saya pun mendapatkan kabar tidak menyenangkan, ibu saya meninggal dunia pada tanggal 12 september 2011. Akhir - akhir ini baru saya menyadari, ternyata Tuhan punya rencana terindah dibalik kepulangan saya pebruari 2011 kali itu, itulah pertemuan pertama sejak saya berpisah dengan mereka 3 tahun lalu untuk ke malang. Secara khusus, waktu itulah merupakan kesempatan terakhir ku bertemu dengannya dan kesempatan itu tidak akan terulang lagi untuk selamanya. Jika terulang, itu hanyalah sebuah mimpi!.

Selasa, 02 Maret 2010

Refleksi 64 Tahun Kemerdekaan Indonesia”KU”


Ada satu pertanyaan yang menarik, ketika penulis mengenang masa-masa di bangku Sekolah menengah pertama/SMP dulu. sekitar dua (2) tahun yang lalu, di suatu hari pada saat dimulainya kegiatan belajar mengajar/KBM, dimana lonceng sekolah dibunyikan tanda dimulainya pelajaran pertama segera dimulai. Guru mata pelajaran PPKN (pendidikan pancasila dan kewarganegaraan) masuk ke kelas, ia mengawali KBM dengan satu pertanyaan, “…… Anak-anak, senjata apa yang sangat ampuh yang di pergunakan para pemuda Indonesia/pejuang kemerdekaan, saat melawan penjajah dimasa itu?, Suasana kelaspun semakin seruh & ramai dengan bermunculnya berbagai jawaban dari para siswa. Ada yang mengatakan, bambo runcing, senjata AK17, kemudian ada juga yang mengatakan, senapan laras panjang bu..”. Demikian berbagai jawaban yang dilontarkan para siswa kepada sang guru. “….semua jawaban anak-anak salah”, kata bu guru. suasana kelaspun kembali ramai, para murid memprotes, “…..kok bisa bu jawaban kami semua salah”?. Beberapa menit kemudian dengan suara yang lembut dan mengharukan, guru itu mengatakan, Senjata yang sangat ampuh adalah semangat PERSATUAN & KESATUAN.

Ketika zaman dulu para pemuda Indonesia dari berbagai daerah, sebut saja Sumatera, Jawa, Makasar, Maluku dll. Bersatu tanpa membeda-bedakan suku, Agama, ras, dan golongan. mereka bersama-sama berjuang melawan penjajah, satu suara, satu komando dan satu tujuan, untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Kalau sekarang sebagai bangsa yang telah merdeka apa yang kita lakukan untuk mengisi kemerdekaan?, apa yang kita lakukan untuk memerdekakan bangsa ini, bukan dari penjajahan, tetapi bagaimana mengantarnya menuju kesejahteraan dan kejayaan?, seperti yang telah diamanatkan oleh para pendahulu kita.

Cerita di bangku SMP diatas, membuat kita kembali merenungkan dan melihat ke belakang, jikalau dengan perlengkapan perang yang serba lengkap tanpa di sertai semangat persatuan & kesatuan, tujuan, dan cita-cita yang sama yang tertanam dalam diri masing-masing prajurit, dalam berperang belum tentu berhasil, dan kemungkinan untuk menang dalam medan pertempuran sangat kecil. Apalagi dengan pemuda Indonesia yang saat itu, dengan perlengkapan perang yang kurang memadai, Persenjataan yang seadanya, apakah bisa meraih sebuah kemerdekaan?, jikalau tidak disertai dengan Visi, Tujuan dan cita-cita yang sama?, apakah kita bisa keluar dari cengkeraman penjajahan bangsa kolonial? Apakah kita bisa makan & minum, menikmati pendidikan seperti sekarang?. Namun, justru dengan bambu runcing, senapan yang seadanya disertai semangat persatuan & kesatuan, patriotisme yang tertanam dalam hati sanubari pejuang kemerdekaan, dengan suatu cita-cita bahwa kita harus satu bangsa, satu bahasa, dan satu tanah air maka sampailah kita pada sebuah KEMERDEKAAN INDONESIA.

Akan tetapi, pertanyaan yang muncul kemudian ialah, masihkah semangat para pejuang kemerdekaan itu, terus ada dalam diri generasi muda sekarang, untuk meneruskan perjuangan membangun bangsa ini?. Dalam pidato kemenangan calon presiden & wakil presiden terpilih, Susilo bambang yudoyono-Budiono di kemayoran minggu yang lalu, calon presiden terpilih mengatakan, “..... Empat (4) pilar penting dalam pembangunan bangsa ialah, Negara Kesatuan Republik Indonesia/NKRI sebagai harga mati yang tidak bisa tawar lagi, Pancasila, UUD 1945 & Bhineka Tunggal Ika”. Tak mungkin kita dapat terlibat dalam pembangunan bangsa, dapat bersatu melawan terorisme, melestarikan budaya Indonesia yang sudah beberapa kali di klaim milik bangsa lain, menghargai pluralisme, & menciptakan kerukunan hidup antar umat beragama, kalau keempat hal diatas, tidak kita junjung tingi, menghayati, pelihara, dan mengamalkan dalam kerangka membangun bangsa ini.

Memperingati HUT kemerdekaan RI yang ke-64 tahun, bukan sekedar kita jadikan sebagai Ceremonial belaka dengan upacara bendera, menghiasi rumah dengan warna merah putih, melakukan serangkaian kegiatan yang menghibur. Sebut saja, gerak jalan, karnaval, panjat pinang untuk merebut berbagai hadiah pada saat tanggal 17 agustus. Tidaklah salah dalam melakukan kegiatan-kegiatan seperti itu. Tetapi, alangkah lebih baik jika jadikanlah momentum itu dimana kita bisa refleksi dan mengambil komitmen bahwa mencapai usia yang semakin dewasa ini, apa yang telah aku lakukan, dan apa yang akan aku lakukan kedepan bagi bangsa & tanah air Indonesia. Ingatlah bahwa perjuangan untuk merebut sebuah kemerdekaan bukan membalik sebuah telapak tangan. Melainkan, dengan jiwa, raga, darah dan air mata. Oleh sebab itu, sekarang wahai Generasi Muda, bangkitlah. teruskan perjuangan membangun bangsa dengan semangat persatuan dan kesatuan, Indonesia ke depan ada di tanganmu. Dirgahayu Indonesiaku, Jayalah Bangsaku. Merdeka!!

Oleh: Cartes A Rangotwat, Aktivis Mahasiswa UNMER Malang

* Tulisan ini sudah dimuat di Buletin Kelompok Diskusi Artikel (KDA) Kristen Indonesia, edisi ke-2

Okkaps dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM)

Sudah menjadi tradisi di tahun ajaran baru, dimana Dunia kampus disibukan dengan berbagai kegiatan yang dilaksanakan untuk menyambut Mahasiswa baru alias (MABA). Salah satunya ialah Ospek, atau Okapps (Orientasi kegiatan akademik & pengenalan program studi). kegiatan yang sudah menjadi tradisi dalam lingkungan kampus. Mulai dari Bulan Agustus hingga saat ini setiap kampus dengan berbagai elemennya, sebut saja pihak Rektorat, Dekanat, lembaga kemahasiswaan & panitia ospek dengan segala kesiapannya untuk kegiatan Okapps. Mengapa perlu diadakan Okapss? Okapps Bukanlah hal yang baru lagi bagi kita MABA karena kegiatan ospek bisa dibilang sama halnya dengan kegiatan MOS yang kita kenal di saat masuk Sekolah menengah Pertama (SMP) maupun sekolah menengah atas (SMA).

Okapps/kegiatan untuk menyambut MABA bertujuan untuk mengenalkan dunia kampus dengan segala unsur-unsurnya, dibekali dengan berbagai materi misalnya: pengembangan soft kill, aturan kelembagaan, dan juga diberikan pemahaman kepada Maba tentang bagamana memanfaatkan setiap Unit Kegiatan mahasiswa yang ada, untuk meningkatkan kreatifitasnya. Sehingga kelak, Maba yang nantinya akan mengikuti perkuliahan/menikmati pendidikan di kampus tidak kaget lagi dalam menyikapi setiap hal yang terjadi. Itulah esensi dari apa yang kita kenal dengan Okapps, dengan demikian jangan sampai Okkaps disalah artikan dengan kesempatan Untuk senior membalas dendam terhadap yuniornya, mengadakan perploncoan, sanksi Fisik ketika melanggar aturan, maupun tindakan yang tidak manusiawi.

Waktu yang di nantikan oleh para Maba Unmer telah tiba, okapps yang telah di laksanakan/dilalui oleh kita semua, yang berlanmgsung selama 3 hari, mulai dari tanggal 7-9 september 2009. sebagai peserta okapps, Ingatlah bahwa okapps yang telah kita jalani bersama telah usai. Namun pergerakan kita sebagai Agent of Change/Calon kaum Intelektual bangsa di sinilah, dikampus inilah kita akan berproses, dibentuk menjadi Generasi Penerus Negeri ini, pemimpin bangsa & Negara kelak, dengan demikian jangan sia-siakan kesempatan untuk menimba ilmu, memperlengkapi diri dengan setiap sarana & prasarana yang ada di kampus.

Di kampus Unmerpun ada begitu banyak Unit kegiatan Mahasiswa (UKM), salah satunya ialah UKM KRISTEN PROTESTAN, atau yang lebih dikenal di kalangan Mahasiswa Unmer yaitu “Jubilee”, Jubilee hadir sebagai UKM kerohanian, untuk meningkatkan pembinaan Keimanan dan Ketakwaan Mahasiswa terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Di sinilah kita akan di bina, di bentuk, dan diproses bersama sebagai Mahasiswa yang tidak hanya berkuliah saja, tetapi bagaimana bersekutu bersama dengan Tuhan Yesus Kristus, dalam persekutuan doa, menghidupi kebenaran Firman Tuhan, membangun persekutuan antar saudara seiman. Sehingga kita tidak hanya memiliki intelektual yang tinggi saja, tetapi menjadi murid kristus yang holistic/antara studi dan iman, keduanya berjalan beriringan/seimbang. Selamat Berkuliah di Unmer, selamat datang di Jubilee, mari berproses bersama dalam pelayanan mahasiswa Kristen. Hidup Mahasiswa!!!. Oleh Cartes A Rangotwat Kabin KTB UKM JubilePeriode 2009-2010; Fungsionaris BEM Universitas Merdeka Malang,Bidang Advokasi, Hukum & HAM 2009/2010

*sudah pernah dimuat;diterbitkan di Buletin UKM Kristen protestan Jubilee UNMER Malang